26 Juni 2013

Pengambilan Ijazah, SKHUN Asli dan lain-lain


Kepada anak-anakku kelas IX, diharapkan hadir untuk melakukan pengambilan (Ijazah Asli, SKHUN Asli, dll) yang insya Allah akan dilaksanakan pada :

Hari / Tanggal     :  Jum'at, 28 Juni  2013
Pukul               :  08.00  s.d.  10.00 WIB
Ruang                :  di ruang kelas masing-masing dengan Walas

siswa yang akan mengambil Ijazah dan SKHUN wajib memakai baju seragam sekolah, yang tidak memakai baju seragam sekolah tidak akan dilayani. Apabila ada kesalahan penulisan nama dan tempat tanggal lahir di ijazah bisa mengusulkan perbaikan dengan membawa ijazah SD.
Sedangkan kesalahan pada SKHUN akan diberikan Surat Keterangan.


Catatan :
Siswa yang akan mengambil Ijazah harus sudah mengembalikan Buku Pinjaman ke Perpustakaan Sekolah

Demikian harap maklum

Terima kasih
Opr. Sekolah

Lapor Diri Tahap I Umum



JADWAL KEGIATAN LAPOR DIRI TAHAP I ( JALUR UMUM )

TGL 27 DAN 28 JUNI 2013 DI SEKOLAH TUJUAN

Tahun Pelajaran : 2013 / 2014






























                                                     

                                                     

  A. Syarat Lapor Diri. (Pengambilan Formulir PPDB) Tanggal 27 dan 28 Juni  2013

   

   






















   

    1.  Menyerahkan Lembar Hasil / Print out Asli Verifikasi Online dari sekolah yg telah     

   
di tanda Tangani oleh Operator sekolah dan Orang Tua Siswa tgl 27 - 28  Juni  2013    

    2. Mengambil Formulir / Berkas  PPDB, Surat Pernyataan,   dll





   

   






















   

  B. Syarat Pengembalian Formulir / Berkas Kelengkapan PPDB. ( Tgl 28 Juni 2013 )

   

   






















   

    Semua berkas dimasukkan kedalam Map Warna Biru untuk Calon Siswa Putra

   

    dan untuk siswa putri kedalam map warna Merah









   

    1. Menyerahkan Surat pernyataan Orang Tua / Wali








   

    2. Melampirkan :

















   

    3. a. Foto Copy Ijazah yang telah dilegalisir  3 lembar







   

   
b. Foto Copy Hasil UASBN Asli (yang tidak sementara) yang sudah dilegalisir 3 lembar  

   
c. Foto Copy Kartu Keluarga 3 lembar










   

   

Dan memperlihatkan KK Asli kepada Petugas / Panitia PPDB




   

   
d. Foto Copy Akte Kelahiran  3 lembar










   

   
e. Copy Hasil Kejuaraan Bidang Akademik dan Non Akademik minimal tingkat
   

   

Kecamatan bila ada.














   

   
f. Copy Kartu NISN















   

    4.
Semua berkas dimasukkan kedalam Map Warna Biru untuk Calon Siswa Putra    

   

dan untuk siswa putri kedalam map warna Merah







   

  Kembalikan berkas yang telah di isi lengkap, 1 hari setelah Anda terima tanda Bukti Lapor Diri ini !    

   






















   

  Catatan :











Jakarta,     Juni   2013

   

  Bagi siswa yg diterima dan Tidak lapor diri



Ketua Panitia PPDB

   

  maka dianggap mengundurkan diri














   

  serta tidak bisa ikut PPDB tahap berikutnya












   

   













Dra.Badariyah, M.Pd


   

                                NIP.196506221992032007        

                                                     




























25 Juni 2013

SELEKSI JALUR UMUM DAN JALUR LOKAL



SELEKSI JALUR UMUM DAN JALUR LOKAL
Seleksi PPDB dilakukan secara online dan dilakukan dengan urutan langkah sebagai berikut: 
Nilai Tertinggi

umur tertua ke umur termuda;

urutan pilihan sekolah (Passing Grade); dan

waktu verifikasi pendaftaran ke sekolah
JALUR LOKAL HANYA UNTUK SISWA / PENDUDUK DKI DIBUKTIKAN DENGAN KK ASLI
JALUR LOKAL HANYA BISA MEMILIH 3 SEKOLAH SESUAI ZONA-NYA MASING-MASING (UNTUK ZONA SMP YANG ADA DALAM KECAMATAN CAKUNG) YAITU : 
SMPN : 90, 138, 144, 146, 168, 172, 193, 234, 236, 256, 262, 284 

JALUR LOKAL HANYA DIPERUNTUKAN BAGI SISWA DKI YANG TIDAK DITERIMA 
DI 3 SEKOLAH PILIHAN PADA JALUR UMUM .

JALUR LOKAL DI MULAI TANGGAL 1 S.D  3 JULI 2013 
DI JALUR LOKAL SISWA HANYA BOLEH MEMILIH SEKOLAH YANG ADA DI KECAMATANNYA.

24 Juni 2013

Hasil Seleksi PPDB SMPN 193



Bapak / Ibu Orang Tua Wali Calon Siswa SMPN 193 Jakarta bisa melihat hasil seleksi sementara melalui link Berikut

21 Juni 2013

Sidik Jari Ijazah


Kepada anak-anakku kelas IX, diwajibkan hadir untuk melakukan sidik jari Ijazah dan (SKHUN Asli) yang insya Allah akan dilaksanakan pada :

Hari / Tanggal     :  Selasa, 25 Juni  2013
Pukul               :  10.00  s.d.  12.00 WIB
Ruang                :  di ruang kelas masing-masing dengan Walas

siswa yang akan melakukan sidik jari Ijazah dan SKHUN wajib memakai baju seragam sekolah, yang tidak memakai baju seragam sekolah tidak akan dilayani. Apabila ada kesalahan penulisan nama dan tempat tanggal lahir di ijazah bisa mengusulkan perbaikan dengan membawa ijazah SD.
Sedangkan kesalahan pada SKHUN akan diberikan Surat Keterangan.

Demikian harap maklum

Terima kasih
Opr. Sekolah

19 Juni 2013

VISI DAN MISI




VISI DAN MISI
SMPN 193 JAKARTA

A. Visi
   
Visi : “ Unggul dalam prestasi berlandaskan Imtaq dan Iptek Yang Berwawasan Global ”
B.  Misi :
1.     Melaksanakan efektifitas pembelajaran dan bimbingan, melalui konsep belajar tuntas.
2.     Menumbuhkan wawasan keunggulan dan keglobalan secara intensif.
3.     Menumbuhkan sikap mandiri, disiplin, kreatif, inovatif dan produktif.
4.     Melaksanakan kegiatan peningkatan akhlak mulia dan budi pekerti luhur melalui ajaran agama yang dianut/program pepmbiasaan.
5.     Menumbuhkembangkan potensi akademis dan non akademis siswa melalui kegiatan intra dan ekstra kurikuler hingga mampu berkompetensi pada tingkat regional, nasional, dan InternasionaL.
6.     Menerapkan manajemen partisipatif, akomodatif dan parsitipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan masyarakat.
7.     Mewujudkan peningkatan dan pengembangan kualifikasi tenaga pendidik dan kependidikan yang cerdas, dinamis dan bertanggungjawab moral / spiritual.
8.     Melaksakanan penataan sistem administrasi dalam rangka memberikan pelayaan prima terhadap masyarakat termasuk warga sekolah.
9.     Mewujudkan peningkatan prestasi akademik kelulusan yang berlandaskan tanggung jawab moral yang tinggi.
10.  Mewujudkan usaha-usaha tidak mengikat yang dapat dijadikan sumber penyandang pembiayaan dalam peningkatan mutu sekolah.

C. Tujuan
1.     Sekolah melaksanakan workshop  pengembangan dan penyusunan dokumen KTSP yang sesuai dengan  kebutuhan sekolah.
2.     Sekolah melaksanakan workshop pengembangan dan penyusunan dokumen  prota, prosem, pemetaan, silabus dan RPP    semua jenjang kelas dan mapel.
3.     Sekolah melaksanakan workshop pengembangan  CTL dan metode bervariatif untuk meningkatkan kualitas proses 
4. Sekolah melaksanakan workshop pengembangan dan pemanfatan media IT, buku sumber dan alat  untuk meningkatkan kualitas dan  efektifitas proses

14 Juni 2013

Passing Grade SMP 2012


Silahkan unduh Passing grade masuk SMP tahun 2012 disini

Silahkan unduh Passing grade masuk SMA dan SMK tahun 2012 DISINI

04 Juni 2013

Juknis PPDB DKI 2013

Kepada para Orang Tua dan calon siswa SMP yang akan mengikuti PPDB DKI Tahun Pelajaran 2012/2013 bisa melihat panduan PPDB tahun ini melalui link yang kami buat di bawah ini :

1.  Jadwal PPDB Dinas Pendidikan DKI klik disini
2.  Juknis PPDB oleh Dinas Pendidkan DKI  silahkan klik
3.  Juknis PPDB oleh Tim Siap Online Telkom Klik untuk unduh
4.  Matriks PPDB 2013 klik disini
5.  Juknis PPDB 2013 Klik disini

03 Juni 2013

Hasil UN 2013


Berikut ini adalah link untuk mengunduh Hasil Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2012 / 2013 silahkan klik disini

26 April 2013

Kematian

 
Ada sebuah perbincangan yang menarik antara seorang ustadz muda dengan jamaah pengajiannya. Sang Ustadz bertanya kepada jamaahnya “Ibu-Ibu mau masuk surga?” Serempak ibu-ibu menjawab “mauuuu….” Sang ustadz kembali bertanya “Ibu-ibu ingin mati hari ini tidak?”. Tak ada satupun yang menjawab. Rupanya tidak ada satupun yang kepengen mati. Dengan tersenyum ustadz tersebut berkata “Lha gimana mau masuk surga kalo gak mati-mati”.

Ustadz muda itu meneruskan pertanyaannya “Ibu-ibu mau saya doakan panjangumur?” Dengan semangat ibu-ibu menjawab “mauuu….” Pak Ustadz kembali bertanya “Berapa lama ibu-ibu mau hidup? Seratus tahun? Dua ratus atau bahkan seribu tahun? Orang yang berumur 80 tahun saja sudah kelihatan tergopoh-gopoh apalagi yang berumur ratusan tahun”.

Rupanya pertanyaan tadi tidak selesai sampai disitu. Sang ustadz masih terus bertanya “Ibu-ibu cinta dengan Allah tidak” Jawabannya bisa ditebak. Ibu-ibu serempak menjawab iya. Sang ustadz tersebut kemudian berkata “Biasanya kalo orang jatuh cinta, dia selalu rindu untuk berjumpa dengan kekasihnya, Apakah ibu-ibu sudah rindu ingin bertemu Allah?” Hening.Tidak ada yang menjawab.

Kebanyakan dari kita ngeri membicarakan kematian. Membayangkan-nya saja kita tidak berani. Penyebabnya adalah karena kita tidak siap menghadapi peristiwa setelah kematian. Padahal, siap tidak siap kita pasti akan menjalaninya. Siap tidak siap kematian pasti akan datang menjemput. Daripada selalu berdalih tidak siap lebih baik mulai dari sekarang kita mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian.

Yakinkan pada diri kita bahwa kematian adalah pintu menuju Allah. Kematian adalah jalan menuju tempat yang indah, surga. Dengan selalu mengingat mati kita akan selalu berusaha agar setiap tindakan yang kita lakukan merupakan langkah-langkah menuju surga yang penuh kenikmatan.

Hakekat kehidupan manusia adalah sebuah perjalanan kembali menuju Allah. Dalam perjalanan yang singkat ini ada yang kembali dengan selamat, namun ada yang terjerumus di neraka. Kita terlalu disibukkan oleh dunia hingga merasa bahwa dunia inilah kehidupan yang sebenarnya. Kita seakan lupa bahwa hidup ini hanya sekedar mampir untuk mencari bekal pulang. Kemilaunya keindahan dunia membuat kita terlena untuk menapaki jalan pulang.

Rasulullah SAW pernah berkata orang yang paling cerdas adalah orang yang selalu mengingat mati. Dengan kata lain orang yang paling cerdas adalah orang yang mempunyai visi jauh ke depan. Dengan selalu mengingat visi atau tujuan hidupnya ia akan selalu bergairah melangkah ke depan. Visi seorang muslim tidak hanya dibatasi oleh kehidupan di dunia ini saja namun lebih dari itu, visinya jauh melintasi batas kehidupan di dunia. Visi seorang muslim adalah kembali dan berjumpa dengan Allah. Baginya saat-saat kematian adalah saat-saat yang indah karena sebentar lagi akan berjumpa dengan sang kekasih yang selama ini dirindukan.

Terkadang kita takut mati karena kematian akan memisahkan kita dengan orang-orang yang kita cintai. Orang tua, saudara, suami/istri, anak. Ini menandakan kita lebih mencintai mereka ketimbang Allah. Jika kita benar-benar cinta kepada Allah maka kematian ibarat sebuah undangan mesra dari Allah.

Namun begitu kita tidak boleh meminta untuk mati. Mati sia-sia dan tanpa alasan yang jelas justru akan menjauhkan kita dari Allah. Mati bunuh diri adalah wujud keputusasaan atas kasih sayang Allah. Ingin segera mati karena kesulitan dunia menandakan kita ingin lari dari kenyataan hidup. Mati yang baik adalah mati dalam usaha menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Mati dalam usaha mewujudkan cita-cita terbesar yakni perdamaian dan kesejahteraan umat manusia.

Duhai Pemilik dunia...

Ajarkan kami untuk menundukkan dunia, bukan kami yang tunduk kepada dunia. Bila kilauan dunia menyilaukan pandangan kami, bila taburan permata dunia mendebarkan hati kami, ingatkan kami ya Allah. Ingatkan bahwa keridhoan-Mu dan kasih sayang-Mu lebih besar dari pada sekedar dunia yang pasti akan kami tinggalkan.

Jadikan hati ini menjadi hati yang tidak pernah mengharap selain hanya kepada-Mu. Tidak gentar dan takut selain kepada-Mu. Tidak merindukan penolong dan pembela selain pertolongan-Mu. Jadikan hati ini menjadi hati yang selalu sejuk mengingat-Mu. Hati yang cinta kepada-Mu. Hati yang rindu ingin segera berjumpa dengan-Mu.

04 Desember 2012

Suluk Baka (Kekal)

SULUK BAKA


Kinanthi

01. Kinanthi ingkang winuwus, wontên baka luwih adi, lir wali
angundang dhalang, sapari polahing ringgit, sayêkti saking
dhêdhalang, lan sapangucaping ringgit.

Diceritakan dalam tembang Kinanthi, yang dikemas dalam Suluk
Baka yang begitu indah, Seperti wali mengundang dalang, Segala
tingkah laku dalam wayang, nyata berasal dari dalang, Dan
segala ucapannya wayang.

02. Saking dhêdhalang puniku, solah pangucapirèki, Ki Dhalang
pan wujud Baka, upama dhalang lan ringgit, lir kawula lan Kang
Murba, sayêkti silihsinilih.

Adalah dari dalangnya itu, Segala tingkah dan ucapan kamu ini,
adalah dari ki dalang yang memiliki sifat kekal, Perumpamaan
dalang dengan wayang, adalah seperti kawula dengan Yang
Kuasa, yang nyata saling terkait keduanya.

03. Tan ana kêkalihipun, lamun tan silihsinilih, wayange lawan
Kang Murba, mangkana kawula Gusti, tan nyata ing kalihira,
lamun tan silihsinilih.

Tidak ada keduanya, jika tidak saling terkait, yakni antara
wayangnya dengan Yang Kuasa, Begitu juga dengan kawula dan
Gusti, Tidak nyata antara keduanya, jika tidak saling terkait.

04. Ya Allah kalawan rasul, kadi dhalang lawan ringgit, Allah
kang mangka dhêdhalang, rasul kang upama ringgit, ringgit
kalawan ki dhalang, tansah asilihsinilih.

Ya Allah dan rasul, bagai dalang dengan wayang, Allah sebagai
dalang, Rasul sebagai wayang, Wayang dengan ki dalang, selalu
saling terkait.

05.     Poma sira aja korup, mring pamisahing kêkalih, dhalang
dhalang wayangwayang, kawulakawula pasthi, gustigusti lah
panggihna, [nanging] kawruhana sami.

Kamu jangan menyembunyikan, terhadap perbedaan keduanya,
Dalang sebagai dalang ; wayang sebagai wayang, kawula tetap


sebagai kawula, Gusti gusti temukanlah, Namun, ketahuilah
kembali.

06. Ing pasthining kawulèku, yèn padudon tampaning sih, ing
padune iku iya, tan ana Mukhamad tunggil, iya Gusti ya kawula,
iya ulun iya dasih.

Apa yang menjadi ketetapan kawula itu, Jika berbantahan dalam
menerima sesuatu, ketika dalam perdebatan. Sesuatu itu ialah,
tidak ada Muhammad tunggal; karena dia itu gabungan dari Gusti
dan kawula, juga hamba dan abdi.

07. Pasthi nora kêna iku, ana dene tampaning sih, ya dening tan
kêna pisah, lawan kawruhana malih, pasthi sakèhing kawula,
minallahi mangallahi.

Hal itu tidak boleh terjadi, adanya penerimaan seperti ini; yakni
keduanya tidak boleh berpisah, Juga ketahuilah lagi, pasti bahwa
semua manusia itu, berasal dari Allah dan akan kembali kepada-
Nya.

08. Lan malihe lillulahu, têgêse kawula iki, anane saking
pangeran,       sarta       pangeranirèki,        lan      kawula       iku      iya,
wêwayanganing Hyang Widdhi.

Dan berubahnya manusia itu juga kehendak-Nya, Arti dari kawula
ini adalah, berasal dari Pangeran, yang juga merupakan Pangeran
kamu ini, Dan kawula itu juga, adalah gambaran dari Hyang
Widdhi.

09. Wayangan lawan suksmèku, iku panggihêna nuli, poma sira
dipunawas, lir ngangsu pikulan warih, lan ngambil gêni dêdamar,
kodhok angêmul lèngnèki.

(yang terdiri atas) badan dengan suksma itu, Hal itu temukanlah
kemudian, Karena kamu sebenarnya senantiasa diawasi, Seperti
mengambil air memakai pikulan air, dan mengambil api dengan
bekal api, Kodok menutupi liang tempat tinggalnya.

10. Lan warangka manjing dhuwung, parahu amot jaladri, kuda
ngêrap ing pandêngan, kalawan gêgêring mimis, tapaking kontul
anglayang, pambarêp adhining wragil.


Dan selubung keris masuk dalam keris, Perahu melingkupi lautan,
Kuda yang berlari cepat di kandangnya, Dengan gigiring peluru,
Jejak bangau terbang, Anak sulung adiknya si bungsu.

11. Lan tambining pucang iku, siti pinêndhêm ing bumi, lan
banyu kinum ing toya, lumpuh angidêri bumi, cebol anggayuh
ngakasa, kang wuta atuduh margi.

Dan tambining pohon pucang itu, Tanah yang terpendam di bumi,
Dan air yang direndam dalam air,    Lumpuh mengelilingi bumi,
Cebol meraih angkasa, Orang buta sebagai petunjuk jalan.

12. Bisu amungkasi padu, srêngenge pine lan malih, ingkang
pawaka binakar, walanjar durung alaki, randha manak bêranaan,
sajatine maksih sunthi.

Orang bisu mengakhiri perdebatan, Matahari dijemur, dan lagi, api
yang dibakar, Janda muda belum menikah, Juga janda yang
memiliki (melahirkan) anak, Sebenarnya masih perawan.

13. Parawan nusoni iku, lan taksih ing priyanèki, atine kang
wuluh wungwang, sawung kaluruk sajroning, turu lan wêkasan
benjang, jatining lanang lan èstri.

Perawan yang menyusui itu, Dan masih terikat oleh lelaki, hatinya
yang ada di dalam badan jasmani, Ayam jantan berkokok di
dalam, tidur dan akhir pagi, Sebenarnya laki-laki dan perempuan
itu.

14. Jatining kawula iku, lawan sajatining Gusti, jatining ringgit
lan dhalang, ana gusti andêdasih, kèngkèn duk lagya dinuta,
kawula dèn kawulani.

Adalah sebenarnya kawula, dengan sebenarnya Gusti, Keduanya
merupakan gambaran nyata dari wayang dan dalang, Ada gusti
yang mengabdi, menyuruh ketika lagi disuruh, hamba yang
dihambai.

15. Wontên punang madhêp ngidul, duk madhêp ngalèr lan
malih, wontên ingkang madhêp ngetan, duk madhêp mangilèn
tuwin, wontên kang madhêp mangandhap, duk lagya madhêp
manginggil.

Ada yang menghadap ke selatan, ketika sedang menghadap ke
utara,  dan lagi,    ada yang menghadap ke timur, ketika sedang

menghadap ke barat, Dan ada yang menghadap ke bawah, ketika
masih menghadap ke atas.

16.     Gutuk êlor kêna kidul, gutuk kidul lor kang kêni, gutuk
kulon kêna wetan, gutuk wetan kulon kêni, gutuk pribadi kênèng
lyan, gutuk lyan kêna pribadi.

Membidik ke utara kena selatan, Membidik selatan, utara yang
kena. Membidik barat kena timur, Membidik timur, barat yang
kena., Membidik diri, kena orang lain., Membidik orang lain, kena
diri sendiri.

17.     Wontên nalikane sêpuh, duk lagya anomirèki, wontên anom
duk ing tuwa, irêng nalikane putih, lawan katon kang kalingan,
wêkasan lagi awiwit.

Ada yang merasa tua, padahal kenyataannya masih muda, Muda
ketika sudah tua, Hitam tatkala putih, Seperti sesuatu yang nyata,
namun tampak samar-samar. Akhirnya baru mulai.

18. Angèdhèng anèng garumbul, adhedhe sajroning warih, silulup
anèng dharatan, lêlungan nalika prapti, singêdan anèng
pêpadhang, lanang nalikane èstri.

Bersembunyi di semak-semak, Berjemur di dalam air, Menyelam di
daratan, Bepergian ketika baru datang, Bersembunyi di tempat
terang, Lelaki ketika wanita.

19. Ěstri nalika priyèku, heh sagung kang ahli buddhi,
grahitanên iku padha, poma dèn kongsi kapanggih, pan iku
sasmitanira, janma kang punjul sasami.

Wanita ketika laki-laki, Hei para cerdik pandai, Pikirkanlah
renungan itu, dengan (kamu) sungguh-sungguh, hingga dapat
menemukan, Hal itulah yang menjadi isyarat, bahwa dirimu,
manusia yang melebihi manusia yang lain.

20.     Lamun sira nora wêruh, takona janma kang luwih, ingkang
wus ngarip ing Kuran, ngungsêda dèn kongsi olih, aja wêdi dening
guna, jêr pakewuh ujar iki.

Jika kamu tidak tahu, bertanyalah kepada orang yang pandai,
yang mengerti tentang Al Qur’an, Berusahalah dengan keras
hingga (kamu) mendapatkan ilmunya, Jangan takut akan gunanya
ilmu itu nanti, Sehingga merasa segan melaksanakan nasihat ini.


21. Pan akèh kang tiba luput, ragane dèndalih jati, marmane kèh
tibèng sasar, poma gurokna sayêkti, tunggaling gusti kawula, lan
rorororoning tunggil.

Banyak orang yang salah, Raganya disangka akan kekal, Oleh
karena itu, banyak yang jatuh dalam kesesatan, Dengan
berpedoman pada kebenaran, yakni tunggalnya Gusti kawula, dan
kedua-duanya tunggal.

22. Tunggil tunggale sawujud, wujuding kawula Gusti, lan
sampurnaning panêmbah, poma dènatèkitèki, dèn rampung
paningalira, aywa katungkul sirèki.

Satu tunggalnya satu wujud, Wujudnya kawula Gusti, dan
sempurnanya ibadah itu, jika kamu rajin melaksanakan perintah,
hingga selasai penglihatanmu, Janganlah kamu terjebak.

23. Dening wujud tunggal iku, mukhayat wujudirèki, apan iku
wêwujudan, tan ana towangirèki, saprênah prayoganira, tan
ketang gon ala bêcik.

Oleh wujud tunggal itu, Wujud ini hanya ada jika kamu hidup,
Sebab itu hanya wujud saja, tidak ada jarak kamu ini, Sebaiknya
kamu menuju satu arah saja, Tidak memperhitungkan tempat
buruk dan baik.

24. Mmêngkono pambêkanipun, yèn manusa kang wus ngarip,
tan na etang kiri kanan, tan narèntèng tan naricik, datan ing wuri
tan ngarsa, miwah ing ngandhap lan nginggil.

Demikian perasaannya, jika manusia disebut bijaksana itu, Dalam
pandangannya, tidak mengindahkan lagi yang ada di kiri kanan.
Tidak menyatukan dan tidak membagi, Tidak di belakang, tidak di
depan, Tidak di bawah dan di atas.

25. Adoh parêk ika iku, iki nora dene tangi, ingakên sadayanira,
iku tingaling kang luwih, kang satêngah agênturan, wênèh
kapapaging margi.

Jauh dekat sana sini, Ini tidak juga bangun, Lihatlah semuanya,
Itu penglihatan yang sempurna, Yang ketika keadaan menjadi
kacau, ada yang dijadikan sebagai petunjuk jalan.

26. Wênèh ingkang kapidulu, sawênèhwênèh ingkang ling,
sawênèh ana kang kocap, sawênèh ana tutwuri, iku kabèh
kawruhana, basa kapapag kapering.

Selain yang dilihat di antaranya, ada yang di dalam pikiran, Di
antaranya ada yang terucap, Selainnya ada yang di belakang,
Semua itu harus kamu ketahui, bahasa yang ditemui dibagi.

27.     Lan malih poma dèn wêruh, rampunge dhalang lan ringgit,
rampung ing Gusti kawula, dhalang pan nyata ing ringgit, ringgit
pan nyata ing dhalang, kawula nyata ing Gusti.

Dan lagi upama diketahui, selesainya dalang dan wayang, adalah
selesainya hubungan Gusti kawula, Tetapi dalang nyata di dalam
wayang, dan bukankah wayang nyata di dalam dalang,
Sebagaimana kawula nyata bagi Gusti.

28.     Gusti nyata kawulèku, êndi dhalang êndi ringgit, êndi Gusti
di kawula, wruha pisah kumpulnèki, lan sapa kang aran dhalang,
lan sapa kang aran ringgit.

Gusti nyata bagi para kawula, Mana dalang mana wayang, mana
Gusti, mana kawula, Ketahuilah pisah kumpulnya keduanya, Dan
siapa yang disebut dalang, dan siapa yang disebut wayang.

29. Roh ngakal kalawan ênur, iku dènarani ringgit, pan iku
wayang ilapat, kanapi aranirèki, dudu sajatining wayang, pan
wêwayangan sayêkti.

Roh, akal dengan nur,    Itu disebut wayang manusia, Tetapi itu
hanya wayang pengantara, yang disebut nafi (tidak ada), Bukan
sebenar-benarnya wayang, Akan tetapi, nafi mirip dengan wayang
itu; yang sebenarnya.

30.     Dening kang cupêt ing kawruh, iku dènarani ringgit, wujud
kak ingaran dhalang, kawruh wong kang durung ngarip, pasthine
iku nanging ta, wontên undhakipun malih.

Oleh orang yang memiliki sedikit ilmu, disebut wayang. Maka
wujud “Ada yang benar” yang disebut dalang itulah, pendapat
orang yang belum arif, Memang itu benar, akan tetapi masih ada
yang lebih tinggi lagi.

31. Sajatining dhalang iku, lawan sajatining ringgit, pan
kapanggih ing panunggal, ira kawula lan Gusti, ing kono dipun
waspada, marang wirasaning wangsit.

Sebenarnya dalang itu, dengan wayang yang sebenarnya, akan
bertemu menjadi satu,    denganmu sebagai kawula dan Gusti,
Perhatikan itu sungguh-sungguh, kepada arti keterangan dari
pertanda ini.

32. Dèn kacipta sasmitèku, yèn wus tan ngulati malih, katêmu
nèng sêlasêla, sajatine kang pinurih, kang micara pinicara, kang
dènrasani ngrasani.

Pikirkanlah makna yang sebenarnya dari simbol-simbol itu, Jika
sudah, tidak dilihat lagi, Ditemukan di sela-sela, Sebenarnya yang
diambil manfaatnya, yaitu yang membicarakan dibicarakan, yang
dibicarakan membicarakan.

33. Kang dinulu kang andulu, kang ngulati dènulati, iku
pancasing wicara, tan ana wirasan malih, yaiku rahsaning rahsa,
surahsarahsa sajati.

Yang dilihat yang melihat,    yang mencari dicari, Itu merupakan
tujuan  dari pembicaraan, Tidak ada pembicaraan lagi, yaitu
rahasianya rahasia, merahasiakan rahasia sejati.

34.     Rasanên rahsa kang mungguh, ing rahsanira pribadi, kang
sarta lawan pitêdah, ing guru kang sampun ngarip, dadi tan
katêlanjukan, rampunging dhalang lan ringgit.

Rasakanlah rahasia yang patut, Di dalam rahasia pribadimu, Yang
juga dengan petunjuk,    dari guru yang sudah paham, Menjadi
tidak akan ketemu, dengan akhir hubungan dalang dan wayang.

35. Aja sira mangumangu, idhêpmu aja sak sêrik, aja mêksih
amêmitra, lan aja sarupa mêksih, dadi bakal yèn mangkana,
têmah kapiran sirèki.

Janganlah kamu ragu-ragu, Perasaanmu jangan sampai iri, (hal
itu) jangan (terjadi jika) masih (ingin) berteman, dan jangan masih
serupa (dengan hal itu), Jika demikian akan berakibat, menjadi
terlantar kamu nanti.



36. Jêr kang satêngah wong iku, jajah desa milangkori, dèn
bêbanjar mranamrana, nora wêruh yèn tutwuri, pan  balolokên
kêwala, walang wrêksa kang lar wilis.

Sebenarnya, sebagian orang itu, melakukan pengembaraan ke
berbagai tempat, dan menyebar ke mana-mana, tidak tahu bahwa
mengikuti dari belakang, dan karena tidak dapat melihat (karena
silau) semata, adalah bagai belalang kayu yang bersayap hijau.

37. Tan buh pinangeran iku, kang konang gung angayêngi, aja
mangmang ing pangeran, kang nyata asih ing dasih, ing sarira
dènpungsênga, iku kang mangka gêgênti.

Tiada mengerti bahwa yang dianggap Tuhan itu, Yang terkenal
selalu mengelilingi, Jangan ragu-ragu kepada adanya Tuhan, yang
nyata kasih-Nya kepada hamba, Di badan dicari di mana-mana,
Itu sebagai pengganti.

38. Sayêkti paesan wujud, wujud tunggal tan kêkalih, apan nora
kêna pisah, ing kono goning ngawruhi, wit ning kang tan wruh
kadohan, sarirane dènsinggahi.

Nyata wujud jelmaan,    wujud satu tidak berbilang, Yang tidak
boleh pisah,Di situ tempatnya untuk mengetahui, Pohon, tetapi
yang tidak kelihatan dari kejauhan, Badannya disinggahi.

39. Den dalih pisaha iku, prandening yèn paningaling, wong kang
makripat, tan ketang jaba jero ngarep wuri, ngandhap nginggil
ana ora, brastha tan nganggo pinrinci.

Disangka pisahnya itu, Jika sekiranya merupakan penglihatan,
orang yang ma’rifat itu; maka dia tidak memperhatikan lagi, luar,
dalam, depan, belakang, bawah, atas ada tidak, Rusak tidak
memakai perincian.

40. Datan andulu dinulu, panêmbahe tan sarênti, alanggêng ing
ananira, gumêlêng ing jagad, lwirning dumadi pan kalimputan,
sêmbah sinêmbah pribadi.

Tidak melihat dilihat, Menyembahnya; tidak secara bersamaan,
Kekal di dalamnya, Disatukan di jagad semuanya, Menjadi tidak
tahu karena terliputi, Sembah disembah sendiri.


41. Ing makrup sampurnanipun, marmane datan kaèksi,
kalimput kandhih ing tunggal, tunggal tunggaling sawiji, yaiku
sêgara mulya, pan sakèhing para nabi.

Dalam kesempurnaan yang baik, Oleh karena itu, orang tidak
melihat apapun lagi, Semua diliputi dan ditutupi oleh Hyang
Tunggal, Tunggal tunggalnya Esa, yaitu samudra kemulyaan, dari
kebanyakan para nabi.

42. Wali mukmin ngulamèku, samya wuta bisu tuli, lumpuh
suwung tanpa solah, lir sêkar pangambunèki, jêr kalimput
raganira, kandhih dening Dzat Sajati.

Wali, mukmin, ulama iku; semuanya buta, bisu, tuli; lumpuh tiada
berilmu, tidak bertingkah;    Seperti baunya bunga ini, Kemudian
terliputi badanmu, tergeser oleh Dzat Sejati.

43. Pan kadya duk noranipun, iku sajatining dasih, apan nora
kadariyah, nora kajabariyahi, tan amuji tan anêmbah, pan kang
muji kang pinuji.

Tetapi umpama ketika tidaknya, itu seorang kawula, sebab bukan
takdir Ilahi, (Manusia) tidak mempunyai kuasa apa-apa, Tidak
memuji tidak menyembah, karena yang memuji adalah yang dipuji.

44. Mung sinilih bae iku, dening ta obahing dasih, dudu obahe
priyangga, sayêkti obahing Gusti, Gusti tan obah priyangga,
Lamun tan nilih ing dasih.

Hanya meminjam saja hal itu, Oleh setiap geraknya kawula,
bukan geraknya sendiri, Nyata geraknya Gusti, gusti tidak
bergerak sendiri, Jika tidak meminjam kawula.

45. nanging tunggal tan ro wujud, yèn roro lir makdum sarpin,
lan Malih kawikanana, kawula tan dadi Gusti, iku tingaling
sarengat, dening sampurnaning puji.

Tetapi tunggal tidak berwujud dua, Jika dua bagai makdum
sarpin, Dan lagi ketahuilah, kawula tidak bisa menjadi Gusti, Itu
dilihat dari sisi syariat, Oleh sempurnanya puji. 

46. Datan andulu dinulu, swuh brastha papan lan tulis, apan
wus rasa Pangeran, ywa kapêcan dening tampi, wadine nênggih
tan pisah, dening tan ana pribadi.


Tidak melihat apapun lagi, leburnya papan dan tulis, Jika sudah
mencapai rasa Pangeran, jangan diramalkan oleh penerimaan,
Karena rahasianya, yakni (rahasia) tidak pisah (tersebut), oleh
karena tidak ada pribadi.

47. Anane lan noranipun, tan sinêdya ananèki, dinadèkkên
dening suksma, mapan kinarya gagênti, lan kinarya sêksining
Dzat, Sipat Asma Apngal nênggih.

Ada dan tidaknya, tidak di maksud adanya ini, Dijadikan oleh
suksma, yang mapan dikaryakan, diganti; dan dikaryakan
saksinya Dzat, yaitu sifat Asma Af’al.

48. Yèn langgênge tan sakuthu, tur wimbuh purba sirèki,
Mahasuci ananira, tanpa lawan timbangnèki, jumênêng lan
dhèwèkira, wus nora samar sayêkti.

Jika kekalnya tidak sekutu, juga bertambah kuasa kamu ini, Maha
Suci adanya, tanpa lawan pertimbangan macam-macam, Berdiri
sendiri, tanpa ada kekhawatiran lagi.

07 April 2012

MAKNA PRESIDEN RI


Ini Bukan Menceritakan Tentang Presiden Ri, Tapi Menceriterakan Jaman Yg Sudah Dan Sedang Kita Lalui :
  1. Sukarno memang jaman Sukar/sulit pada saat itu, maka hanya beliau MR (Muhammad Rahmat) .Ir. Soekarno yg mampu mengemban tugas itu sampai Indonesia Merdeka.
  2. Suharto jaman sudah berubah gampang mencari harta, tapi hanya harta yg selalu dikejar-kejar, warisan Ilmu tua/ Ilmu Kebangsaan Bung karno ditinggal.
  3. Habibie (Cinta) Setelah hartanya banyak maka cintanya hanya untuk dunia, maka kebanyakan manusia jaman sekarang apabila kehilangan harta atau wanita ia merasa separuh hidupnya hilang.
  4. Gus Dur (salah satu Orang Tua yg bersembunyi di tempat terang, dan penerus ajaran Bung Karno), Kebanyakan manusia sekarang telah dibutakan oleh isi dunia.
  5. Megawati setelah berharta, berpangkat, maka godaan selanjutnya adalah wanita (Harta, Tahta Wanita) hanya manusia pilihan dan terpilihlah yang bisa selamat dari godaan Dunia.
  6. SBY Berbudi, maka sudah saatnya anak bangsa Indonsia yang merasa terpilih untuk segera membenahi Budi Pekerti, Hati Nurani, sehingga bisa mengenal Tuhan Yang  Maha Agung.
Ratu Adil, maka bila bangsa Indonesia sudah berbudi mulia, akhlak mulia dia bisa berbuat adil kepada seluruh makhluk yg hidup bersama-sama di muka Bumi ini (Baik makhluk yg kasat mata, maupun tidak kasat mata). Karena mata Hatinya telah jernih dari nafsu dan kotoran2 Duni